Simantik dan Etimologi
SMA SMP Umum

Materi Simantik dan Etimologi

Materi Simantik dan Etimologi
5 (100%) 3 votes

Materi Simantik dan Etimologi – Kali ini saya akan mengulas tentang simantik dan etimologi. Apa itu simantik? simantik adalah bagian dari tata bahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata.

rushor.com – Sedangkan etimologi adalah ilmu yang mempelajari perubahan dan perkembangan bentuk kata. Dalam etimologi tekanan diletakan atas sejarah bentuk kata. Adapun dalam simantik, tekanan terdapat pada makna dan sejarah makna kata.
Simantik dan Etimologi
Simantik dan Etimologi
A. Macam-Macam Arti
  1. Batasan arti adalah hubungan antara benda berupa lambang bunyi udara dengan hal atau barang yang dimaksudkan.
  2. Arti leksial adalah arti dari kata sesuai dengan hal yang terdapat dalam kamus atau leksikon.
  3. Arti struktural adalah arti yang diperoleh dari meneliti hubungannya dalam kalimat.
  4. Homonim adalah kata-kata yang mempunyai bentuk yang sama tetapi artinya berbeda. Contoh: Dia bisa mengerjakan pekerjaan itu. (Bisa = sanggup). Bisa ular itu sangat berbahaya. (Bisa = racun).
  5. Homograf adalah kata-kata yang ejaannya sama tetapi mempunyai bunyi dan arti yang berbeda. Contoh: Ayahnya seorang pejabat teras di Departemen Keuangan. (teras = tingkat atas). Bandingkan dengan “Mereka sekeluarga sedang duduk-duduk di teras rumah.” (teras = beranda).
  6. Homofon adalah kata-kata yang bunyinya sama tetapi ejaan dan artinya berbeda. Contoh: Ayah bercerita tentang pengalamannya pada masa lampau. (masa = waktu). Bandingkan dengan, Tak ada seorangpun yang berani melawan bila massa telah menyerang. (Massa = masyarakat)
  7. Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Contoh: “Rumah tempat tinggalnya selalu tampak bersih”. “Dalam perkara kejahatan itu rupanya ia bersih”.
  8. Hiponim adalah kata atau frase yang maknanya dalam makna kata atau frase lain. Contoh: Merah, hijau, coklat, kuning – hiponimnya warna.
  9. Antonim adalah dua buah kata yang maknanya dianggap berlawanan. Contoh: Tembok penjara setinggi itu masih terlalu rendah untuk penjahat itu.

B. Perubahan Makna
Berikut ini beberapa peristiwa perubahan makna yang penting;
  1. Meluas, adalah cakupan makna sekarang lebih luas dari pada makna yang lama. Contoh: Bapak, dulu dipakai dalam hubungan persaudaraan, tetapi sekarang dipakai untuk panggilan laki-laki yang lebih tua/tinggi kedudukannya.
  2. Menyempit, adalah cakupan arti dulu lebih luas daripada makna sekarang. Contohnya: Sarjana. Dulu kata ini untuk menyebut semua orang cendikiawan, tetapi sekarang dipakai untuk gelar universitas.
  3. Amelioratif adalah suatu proses perubahan arti, yang menempatkan arti baru lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari dulu. Contohnya: Istri/Nyonya lebih baik dari bini, atau wanita lebih baik dari perempuan.
  4. Peyoratif adalah suatu proses perubahan makna, yang menjadikan arti baru lebih rendah nilainya dari dulu. Contohnya: Kaki tangan dulu berarti pembantu, sekarang dipakai dalam arti kurang baik. (orang jahat)
  5. Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berlainan. Contohnya: Kata-katanya pedas (pedas tanggapan indera perasa), atau seperti pada kalimat suaranya sedap didengar. (sedap tanggapan indera perasa).
  6. Asosiasi adalah perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh: Catut (alat untuk menarik/mencabut paku). Catut juga dipakai untuk persamaan sifat orang yang menjual barang-barang dengan harga tinggi

C. Perubahan Bentuk Kata
Perubahan bentuk kata dibedakan atas beberapa hal berikut:
  1. Perubahan bentuk kata-kata dari perbendaharaan kata-kata asli suatu bahasa karena pertumbuhan dalam bahasa itu sendiri.
  2. Perubahan bentuk dari kata-kata pinjaman.
a. Adaptasi
Semua bentuk asing yang tidak diterima begitu saja tetapi selalu mengalami proses penyesuaian sesuai dengan struktur bahasa Indonesia disebut adaptasi.
Adaptasi atau penyesuaian bentuk dibedakan atas dua hal yaitu;
  1. Adaptasi berdasarkan sistem fonologi bahasa Indonesia. Contoh: voorschot (Bld) > persekot, voorloper (Bld) > pelopor.
  2. Adaptasi berdasarkan bentuk kata atau morfologi dalam bahasa Indonesia. Contoh: prameswari (Skt) > permaisuri. prakara (Skt) > perkara.
b. Analogi
Analogi adalah pembentukan suatu kata baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada.
Contoh:
ekspor (Bahasa Inggris) – to export, exporting, exported.
(Bahasa Indonesia) – ekspor, pengeksporan, pengekspor, mengekspor, diekspor.
c. Kontaminasi atau Keracunan
Kontaminasi atau keracunan yaitu dua ungkapan yang berlainan diturunkan suatu ungkapan baru.
Contoh:

Membungkukkan badan dan menundukkan kepala dibuat kontaminasi menundukkan badan


d. Macam-Macam Gejala Perubahan Bentuk Kata.
Berikut ini beberapa gejala perubahan bentuk kata
1. Asimilasi, adalah gejala dua buah fonem yang tidak sama dijadikan sama.
Contoh;
alsalam > asalam
in moral >imoral
2. Desimilasi adalah proses berubahnya suatu monoftong menjadi diftong.
Contoh:
sajjana > sarjana
citta > cipta
3. Diftongisasi adalah proses berubahnya suatu monoftong menjadi diftong.
Contoh:
anggota > anggauta
teladan > tauladan
4. Monoftongisasi adalah proses berubahnya suatu diftong menjadi monoftong.
Contoh:
pulau > pulo
danau > dano
5. Haplologi adalah proses hilangnya suatu suku kata di tengah-tengah sebuah kata.
Contoh:
budhidaya > budidaya
mahardhika > merdeka
6. Anaptiksis adalah proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata untuk melancarkan ucapannya.
Contoh:
sloka > seloka
srigala > serigala
7. Metatesis adalah proses perubahan bentuk kata dengan bertukarnya tempat dua fonem dalam sebuah kata.
Contoh:
drohaka > durhaka
pratyaya > percaya
8. Aferesis adalah proses hilangnya satu fonem lebih pada awal suatu kata.
Contoh:
pepermint > permen
upawasa > puasa
9. Sinko adalah proses hilangnya satu fonem atau lebih di tengah-tengah suatu kata.
Contoh:
niyata > nyata
utpatti > upeti
10. Apokop adalah proses hilangnya suatu fonem pada akhir suatu kata
Contoh:
pelangit > pelangi
mpulaut > pulau
11. Protesis adalah proses bertambahnya suatu fonem pada awal suatu kata.
Contoh:
mas > emas
stri > istri
12 Epentesis (=mesogoge) adalah proses bertambahnya suatu fonem atau lebih ditengah-tengah suatu kata.
Contoh:
akasa > angkasa
racana > rencana
13. Paragog adalah proses penambahan suatu fonem pada akhir suatu kata.
Contoh:
adi > adik

kak > kakak


D. Denotasi dan Konotasi

Denotasi adalah arti sebenarnya, arti yang dekat dengan bendanya atau acuannya, kata yang mengandung arti sebenarnya yang biasa terdapat dalam kamus.
Contoh:
Anak-anak yang di aula itu sedang berebut kursi karena pertunjukkan segera dimulai. (berebut kursi = benar-benar memperebutkan kursi sebagai tempat duduk)
Konotasi adalah arti yang timbul di samping arti sebenarnya, kata yang mengandung arti lain selain arti sebenarnya.
Contoh:
Siapapun yang bermaksud berebut kursi pimpinan perusahaan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan formatur. (berebut kursi =berebut jabatan).

dikutip dari : gurupendidikan.co.id